Dienstag, 28. Juni 2016

I <3 yogya

Es ist.... unbeschreiblich.
Ich bin endlich wieder auf einem Fahrrad unterwegs und das nonstop (bis mich der Muskel Kater einholt, dann schauen wir weiter). Endlich mal Gelegenheit wieder ein bisschen vernünftige Bewegung zu machen.

Wir sind gestern Nachmittag Bach acht Stunden kalter Zugfahrt angekommen und wurden von zwei Fratres abgeholt. Los ging es zum Wisma Sang Penebus.
Dort ist die Frater Ausbildung der Redemptoristen angesiedelt.

Bevor ich jetzt zu viel erzähle muss ich noch anmerken, dass wir schon unendlich viel über Yogya gehört haben.
Die einen wollen dort sterben, weil es die schönste Stadt ist, die anderen reden von der Seele Javas und wieder andere finden es das reinste Shoppingparadies.
Ich persönlich war einfach richtig neugierig wie denn nun das Wisma aussieht, da ich das Postulat und das Noviziat ja bereits kenne.

Und jetzt nach fast zehn Monaten sind wir endlich angekommen.

Wir leben also jetzt nicht mehr mit zwei Mädchen (in Bandung), 4 Patres (Jakarta) use...., sondern mit knapp 40 Fratern ( Frater Ausbildung beträgt minimal 7 Jahre) und 2 Patres (es sind gerade einige wegen dem Marienfest auf Sumba, dabei ist in Wara nicht mal das richtige Marienbild... Aber das ist eine andere Geschichte).

Viel Testosteron auf einem Haufen mit Redemptoristen als Rektoren.... woran erinnert dich das?

Mich erinnert es ans Asrama Pada Dita.... nur mit etwas reiferen Männern.
Nach überschwänglichen Begrüßungen und einer herrlichen Dusche würde non stop durch gequaselt bis zum Abendessen und danach ging es dann noch mit dem Fahrrad <3 in die Stadt. Zur Jalan Malioboro.

Anm. Hier besitzt jeder Frater sein eigenes Fahrrad und zusätzlich gibt es noch 5 Onthels, da selten alle 40 unterwegs sind, haben Anna und ich eine herrliche Auswahl an Mountainbikes.

Das ist eine herrliche Shoppingstraße mit BatikHemden und Hosen, traditionellen Stoffen und süßen Taschen. Das ganze ist eine lange süß beleuchtete Straße mit ganz vielen Faxis, die sich nur zu gerne mitnehmen wollen.

Nach zwei Stunden haben wir mal genug. Wir hatten viel zu wenig Geld mit, daher ist unsere Ausbeute nur klein.
Die Heimfahrt war noch besser, da es jetzt nicht nur bergauf zurück ging sondern auch regnete.
So hatten wir eine schöne Regenfahrt zurück und kamen schön dreckig oben an.

Und heute.... ja heute...
Heute ging es mit dem Fahrrad in den Kraton und in eine Batik Schule, extrem faszinierend.
Und natürlich sind wir um 5 für zwei Stunden der Sonne hinterher gefahren, aber die Wolken, wollten sie einfach nicht frei geben.

Ich bin neugierig was noch vor uns liegt.
Sampai jumpa

Sonntag, 26. Juni 2016

Kota Tua - Menunggu di Macet

Hari ini tujuan kami ke "Kotu" (kota tua), di Jakarta serba disingkat dong.. Kami berjalan bersama dua teman OMK, yaitu Agata dan Afi. Pater Handry menjadi sopir kami. Sebelum berangkat pater Rano berpesan: "Selamat menikmati macet..hahaha..."

Ketika pusat kota Jakarta semakin dekat, jalanan semakin sesak dengan kendaraan, jalan tol saja macet sekali. Tidak apa-apa, nikmati saja, kami bernyanyi, bercerita atau tidur selama dua jam perjalanan.  Ketika tiba disana, kami berempat saya, Anya, Agata, dan Afi lanjut jalan kaki. Pater Handry tidak ikut karena dia capek mengendarai mobil.

Dalam perjalanan ke Taman Fatahillah kami melewati Kali Besar. Ternyata namanya tidak cocok pada musim ini, karena hampir tidak ada air lagi..

Sampai di Taman Fatahillah saya bahagia sekali karena di tempat ini bisa main sepeda. Yang mau bermain sepeda  bisa memilih sepeda dan topi dengan berbagai jenis pilihan warna. Saya dan Anya memilih sepeda dan topi warna merah, kami terlihat  macam wanita “jadul” (jaman dulu) saja. Topi itu sebenarnya terlalu kecil untuk kepala kami sehingga ketika bermain selalu mau jatuh. Senang sekali main sepeda. Pertama saya yg bawa, Anya di belakang. Sebelum kami datang taman masih tenang, tapi setelah kami mulai bermain suasana menjadi berubah berisik dan ribut. Kami senang sekali dan tertawa terus. Orang-orang di sekeliling heran melihat dua orang bule yg naik sepeda seperti orang gila..

Setelah puas main sepeda kami lanjut berjalan ke arah laut. Saya pernah membaca bahwa dekat Sunda Kepala ada Menara Syahbandar yang setinggi delapan tingkat. Saya ingin sekali naik ke menara itu.. Kami berjalan kaki ke sana. Kami orang Jerman dan Austria suka jalan kaki, kasihan juga teman-teman yang ikut dengan kami, hehehe... tidak apa-apalah, semoga mereka juga suka.

Hari semakin siang, jadi panas sekali. Saya berjalan paling depan penuh semangat, diikuti Anya, serta Agata dan Afi di paling belakang. Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di menara dan dengan kekuatan terakhir kami naik ke atas. Pemandangannya indah sekali, seluruh kota tua bisa dilihat, atap-atap gedung yg berwarna merah, kali besar yang di sebelahnya dan semua kapal yang baru sampai di pelabuhan.
Terasa sejuk di atas menara, kami beristrahat sejenak.

Setelah dari menara kami mengunjungi Museum Bahari yang berada dekat Pasar Ikan. Museum ini menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia.
Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC . Selain itu ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut pada jaman dulu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.
Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data, jenis, dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara.

Setelah itu kami mencari jalan pulang ke mobil karena sudah memulai lapar dan capek. Pater Handry mengusulkan supaya makan di McDonalds. Tetapi dibatalkan, dan kami diajak membeli roti di Holand Bakery, mungkin mereka mengira kami orang eropa selalu ingin makan roti ya...? Sebenarnya kami lebih senang makan makanan khas Indonesia seperti nasi. Soalnya kalau belum makan nasi belum sungguh-sungguh kenyang... Hahaha... Indonesia bangat to...?

Perjalanan pulang membutuhkan waktu sekitar tiga jam karena pada sore hari macet parah hampir di seluruh Jakarta. Itu masalahnya liburan di Jarkarta, kami lebih sibuk menunggu di jalan daripada mengunjungi tempat wisata.. Tetapi macet merupakan bagian kehidupan di Jakarta yang juga harus dialami. Dan sambil jalan kami bisa istrahat dan santai. Saya banyak tidur di mobil sehingga ketika sampai di wisma redemptoris tidak terlalu mengantuk lagi..
Setiap malam sejak kami tiba di Jakarta ada hujan, malam ini juga. Bagus, karena terasa lebih sejuk, kurang panas. Sambil mendengar bunyi hujan, Anya dan saya boleh menikmati mangga. Ahhh, saya sekarang seperti di surga ketujuh (pepatah dari jerman). Sejak Desember kemarin tidak ada lagi mangga di Sumba dan saya merindukan rasanya. Sepertinya sekarang saya ingin tinggal lebih lama lagi di Jakarta.

Habis novena kami diajak makan malan dengan teman OMK. Malas jalan kaki kami pergi dengan motor sekitar 2 menit ke angkringan favorit mereka. Disana kami makan nasi kucing. Awalnya saya takut, saya kira mereka menyuruh kami makan daging kucing. Tapi ternyata itu hanya nasi campur biasa tanpa daging kucing ...rasanya enak sekali!

Pulang, kami membuat pesta perpisahan yang kecil bersama Pater Handry dan Pater Barnabas.  Besok pagi Anya dan saya akan melanjutkan perjalanan ke Bandung - dengan kereta api! Semoga jangan terlalu macet supaya kami tidak terlambat ke stasiun!
Semuanya sedih sampai menangis terutama Pater Handry yang sangat menikmati menjadi guide untuk Anya dan saya. Hehehe, tidak.. Tapi saat di Jakarta sungguh-sungguh mantap.. Terima kasih!

Samstag, 25. Juni 2016

von Liebe im Bauch und dem Abschied von Jakarta

Nach dem wir es in Jakarta immerhin zweimal in die Messe geschafft haben und ein paar Mädels von der OMK ( KJ) immer und überall dabei waren ging es auch heute so weiter.
Agatha und Avy wollten uns zum Bahnhof begleiten. Fast pünktlich um acht waren wir alle startbereit. Nach dem Abschied von den Patres ging es dann also zur nächsten Transjakarta Station (das sind diese fancy Busse durch die Stadt). Da Jakarta ja die Stadt des Staus ist,
muss man prinzipiell für alle Reisen in das Zentrum 2-3 Stunden rechnen.
Am Ende war unsere Truppe übrigens 5 Frau und 1 Mann stark.
Mit dem einen Bus, zum nächsten Bus und nach zwei mal umsteigen und nur zwei Stunden später sind wir am Ziel Gambir Station, Hauptbahnhof von Jakarta.
Ich naives Mädchen dachte natürlich, dass das jetzt riesig groß sein wird...  dem war aber nicht so, tatsächlich waren Anna und ich sogar schon mal hier ohne  mitzubekommen haben, dass das die größte Station ist.
Da wir ja früh genug los sind hatten wir genug Puffer um noch einen Kaffee zu trinken und 1000 Fotos zu machen.
Die Mädels sind wirklich nett und der erste Abschied war ein bisschen traurig.
Nachdem wir unsere Ticket ausgedruckt hatten - fancy Automaten - ging es dann durch den Schranken. Mit Lichtbildausweis wird dann der Name und die Identifikationsnummer abgeglichen und der Abschied kann nicht mehr hinaus geschoben werden.
Zwei Stockwerke weiter oben werden wir dann vom Zugpersonal in den richtigen Wagon geleitet. Zuerst natürlich noch ein Fotos mit den Bules - faaaaame.
Aber inzwischen haben wir gelernt und antworten dann mit einem Foto mit einem Indonesier.
Nach einem ziemlich lauten Streit wer denn nun am Fenster sitzen darf, auf Indonesisch, sitzen wir nun und wissen gar nicht was wir mit all dem Platz angefangen sollen.
Das wir am Ende der Reise von den restlichen Passagieren gehasst werden, ist durchaus möglich.... der Rest des Wagons schweigt nämlich.
Na dann auf nach Bandung, wo süße Roti Bakar Träume hoffentlich war werden.
Goodbye Jakarta- du seltsame Stadt.




Donnerstag, 23. Juni 2016

Freezing in West Java

After a German evening yesterday, today we wanted to go back to the real Indonesian feeling. At 10.00 (punctual - so not Indonesian) we went to the car and headed off. Together with Pater Handry, who had been the head of Asput, before Anna and I came there.
Our destination -Bogor Rain City and with the air con on highest level we head to the nearest motorway. This is really impressive, in the middle of the City a motorway with 4 lanes.
The motorway is good filled but according to the Pater there is hardly any traffic. And I f I think about yesterday evening, I can imagine what he is talking about.

After paying the fare we are free to go and are travelling with around 65 km/h.
Try to do that in austria and the people will go crazy.
Anyway...
In our driving fridge we finally reach bogor and are immediately welcomed by....  traffic.

The best thing here is, that the people don't care at all about lanes. If there is space for me, hell yeah let s drive between a bus and a truck. That's totally fine.
After maybe twenty minutes we reach our destination, and are actually almost driving past it. But thank god that driving backwards is not a problem here.

Welcome to the royal garden of Bogor, where not only a wide variety of flowers and trees are at home but also the Indonesian president. His white castle with golden top can only be admired from the distance, seems like he doesn't like visitors.
But the flowers are more than happy to present their beauty.
Walking, dancing, photographing and mosquitos killing we are spending our time and pater Handry is a real good companion. I can see why the girls liked him, he is just really carefree and living in the moment.

There are trees that reach the sky, there are the ones that have their roots above the earth, there are gigantic lotus plants and a lot of orchids. It is a beautiful place and like a lung filled with fresh air.

We also start to talk about the president. I just had troubles imaging him driving on the highway to his work in the city. Driving or rather waiting in the traffic jam.
It seems that he in fact takes the highway.
But the high way.
He uses his own helicopter to get to work, oh well...  If there's nothing else he would wish for.

Anyway that s not what I wanted to talk about. 
After relaxing we walked back to our fridge on wheels and decided to go to the pass.
After taking the wrong turn twice we are back on the highway for the average person and on our way to puncak.
The street is formed like a snake and is meandering upwards. On both sides of the streets you can see kiosks and sometimes in between the tea plantains.
It is amazing, after a few minutes we can see over bogor and all those plantains. It is time to drink tea and the sheer mass of green is so impressive. Even more so that the plantains are free from waste.
A bit further up we get some fruits. Bananas and markisas. With a little snack in a restaurant, with mainly islamic waitresses we are strong enough for the way back.
On the puncak pass the temperature is close to our fridge and I was really glad to drink some tea.

And now we are on our way back. With icy toes, a red orange sky a few clouds and approximately x100 other vehicles we are not driving but damming our way back.

Sweet sunset.

But all these amazing views  I was able to see today were worth it. Also the rest of our trip starts to take form.

And in the meantime we have taken up on speed - rushing back to the hot city. Oh jeans, socks and pullover - I am coming.

P.S: A little one shot in a different language. I think the majority will still be German but Anna may will write somewhat in Indonesian. Oh and the flower pictures are on my camera.... you 'll get them later.

Mittwoch, 22. Juni 2016

Eine Reise ins Ungewisse

Erster Morgen in Jakarta. Der Reiseführ nennt die Stadt fröhlich "Big Durian" - bezogen auf die Luftverschmutzung und genau wie bei der Frucht teilen sich die Gemüter, wer Jakarta nun liebt oder hasst.. Wir verlassen gegen acht das Haus und laufen erstmal in eine unbestimmte Richtung. Was wir uns heute angucken wollen, entscheiden wir dann mit der Zeit. Erstmal müssen wir nämlich das Transportproblem lösen. Ohne wirkliche Karte oder Einweisung ins Öffisystem halten wir uns einfach Richtung Norden - die Redemptoristen sind in Jakarta nämlich ziemlich weit ab vom Schuss im tiefen Osten. Ich frage die Erstbeste nach dem Weg zu einer Bushaltestelle und bin nach der Antwort noch verwirrter als vorher - hab aber die grobe Richtung. Wir treffen auf eine Art Hauptstraße. Voller Autos, Taxis, Motorräder. Hier in Jakarta lässt sich per App "Grab" oder "GoJek" eine Motorradmitfahrgelegenheit suchen, aber der Weg ins Zentrum ist schon recht weit, wir wollen sehen, ob sich nicht Geld sparen lässt. Taxis sind also auch raus. Bleiben die lustigen kleinen Busse, Angkot genannt, in die man einfach einsteigen kann. Vor uns hält ein blaues Exemplar mit der Nummer 06 - einfach mal einsteigen, der Rest regelt sich. Der Fahrer und die anderen Fahrgäste beraten uns  gerne. Inzwischen können wir auch schon ein Ziel nennen, zum Pasar Senen bitte. Nach ca 60 Minuten stop-and-go durch den Macet (Stau) schlängeln, wird uns vorgeschlagen, doch die Linie zu wechseln. Die ganze Fahrt kostet uns grade 5000 Rp - so ca. 30 ct. Weiter gehts mit der Linie 01, die praktischer Weise unseren Pasar Senen als Endziel hat. Wir überqueren todesmutig die Straße, verursachen einen Tumult und suchen uns eins der zwanzig 01er aus, die sich hier grad tummeln. Die Fahrt geht weiter. Ich bekomme langsam Durst, aber es ist ja Ramadan - aus Höflichkeit trinkt man hier nicht vor fastenden Leuten. Werde ich auch direkt drauf hingewiesen, als ich die Flasche schon halb in der Hand hatte. Na gut Anja, heute fasten wir halt auch. Sie lacht, Anna, das will ich sehen.. Du hast doch eh in einer Stunde schon Hunger. Haha, Recht hat sie. Und ich will ihr den Tag ja auch nicht mit meiner blendenen Laune vermiesen, die sich bei Hunger normalerweise einstellt.

Angekommen am Pasar: wir sind überwältigt. Stockwerk um Stockwerk unendliche Meere aus Uhren, Schmuck, Taschen, Sonnenbrillen, elektro Kleinzeug, Kleidung und und und.. Anja hat nun ein Trauma, mit mir zusammen einkaufen zu gehen. Ich brauche eine neue Tasche, aber die Auswahl überfordet mich und letztlich kauft sich Anja einen Rucksack... Die ganzen Verkaufer sind echt mega nervig. Bule hier bule da schallt es aus allen Richtungen. Und sie bombadieren uns mit neugierigen Blicken und Fragen, sobald sie erkennen, dass wir ja tatsächlich sogar Indonesisch können. Irgendwann will ich einfach wieder raus, zurück ans Tageslicht. Weg von der Enge. Wo sind eigentlich die ganzen anderen Touristen? Jakarta ist doch eigentlich schon ein Reiseknotenpunkt. Ach, ich hab vergessen, dass außer Anja und mir keiner so verrückt ist, mitten im Ramadan in eine muslimische Stadt zu fahren.

Vor dem Pasar ist ein Büchermarkt, unsere Herzen gehen auf. Anja kann sich gar nicht entscheiden, sie kämpft sich durch einen immer größer werdenden Buchstapel, den ihr einer der Verkäufer gutherzig auftürmt. Ich bin fasziniert von der indonesischen Ausgabe des Buches "Er ist wieder da" - "HITLER bangkit lagi" mit indonesischen Empfehlungen vom Spiegel und Christof Maria Herbst hinten drauf. Die Welt ist ein Dorf.

Weiter gehts Richtung Nationaldenkmal - diesmal zu Fuß. Wir perfektionieren die Kunst, die Straßen zu überqueren, und kommen tatsächlich irgendwo an. Ist nicht ganz der Platz, den wir im Blick hatten, doch der ist auch ganz nett. Hungrig setzen wir uns ins Gras und machen eine kleine Mittagspause. Dann gehts weiter, in der Post direkt um die Ecke wollen wir nach Postkarten suchen. Es gibt auch zum Glück eine minimalistische Auswahl, sodass wir die nächste Stunde mit Schreiben beschäftigt sind. Aber vorher stärken wir uns noch mit Kaffee und Kuchen bei Dunkin' Donuts - ganz indonesisch. Wir gehen weiter in Richtung eines anderen Marktes, dem Pasar baru, der eine große Obstauswahl bieten soll. Dort sind wir erstmal von unserem Fund einer Bushaltestelle fasziniert, die für die "richtigen" Busse ist, die sogar eine eigene Fahrspur haben.
Unser Weg führt uns weiter zu einer riesigen Betonklotz-Moschee, die direkt neben einer großen kath. Kirche liegt, bis hin zum tatsächlichen Nationaldenkmal, auf das wir ja eigentlich schon den ganzen Tag zusteuern. Das Denkmal liegt umzäunt in einem weitläufigen Park und wir sparen es uns, den richtigen Eingang zu finden, sondern schauen einfach von Außen. Es dämmert langsam, das Fasten wird gebrochen und wir sehen uns langsam aber sicher nach einem Rückweg um. Vorbei am Präsidentenpalast, dem Innenministerium und anderen Verwaltungssitzen suchen wir die nächste Bus- oder Bahnstation. Nochmal Angkot zu fahren, ist uns nämlich zu mühselig. Wir wollten schon noch vor Mitternacht zurück sein.

Tatsächlich werden wir fündig und erwerben ein E-Ticket, das uns den Eintritt ins Busnetz gewährt. Jede Busreise kostet nur 3500 Rp, unabhängig von Fahrziel oder -zeit. Wir sind happy und steigen erstmal planlos in den erstmöglichen Bus ein. Wenn es der Falsche wär, kann man ja einfach wieder zurück fahren. Im klimatisierten Bus (ganz fortschrittlich mit Gasantrieb - oho) orientieren wir uns und schätzen, dass die Richtung ganz gut stimmen könnte. Irgendwann entscheiden wir, die Linie zu wechseln und fragen uns ein bisschen durch, sodass wir tatsächlich Richtung Zuhause fahren. In der Dunkelheit brausen wir über die Straßen, so eine Busspur ist echt zeitsparend. Irgendwann kommen wir überraschender Weise wirklich an, nachdem uns noch ein Fahrgast freundlich antippte und uns ans Aussteigen erinnerte. Indonesier sind echt super hilfsbereit! Das letzte Stück legen wir mit frischer Energie zu Fuß zurück. Todmüde, verschwitzt und ausgehungert  kommen wir schließlich gegen neun bei den Redeptoristen an und lassen uns erstmal ein dickes Abendessen schmecken.
Der Tag ist dann aber nicht nicht vorbei, heute Abend spielt ja Deutschland. Frisch geduscht und gestärkt - ich hab auch einfach noch ein kleines Nickerchen eingelegt - fahren wir mit Pater Handry und zwei OMK-Leuten los, um das Spiel irgendwo zu schauen. Es scheint aber keiner ihrer bekannten Orte noch geöffnet zu haben - und gleichzeitig Bier zu verkaufen. Das schien dem Pater nämlich irgendwie wichtiger zu sein, als wirklich das Spiel zu sehen. Die Geschichte endete also damit, dass wir die gesamte Spielzeit durchs nächtliche Jakarta gurken, da zum Ramadan Alkohol eher Mangelware ist. Aber Deutschland konnte auch ohne unsere Aufmerksamkeit gewinnen, sodass wir uns nicht allzu enttäuscht gegen 1.30 Uhr auf den Rückweg machen. Jakarta bei Nacht ist noch faszinierend belebt, überall sind kleine Kramsstände und Essensverkäufe, viele Autos und Fußgänger sind unterwegs.

Wieder heimgekehrt setzen wir uns noch ein bisschen zusammen und gehen dann mit einer groben Tagesplanung (-> Ausschlafen) glücklich und überwältigt mit Eindrücken hundemüde schlafen..

Montag, 20. Juni 2016

Eine neue Reise - Java wir kommen

Hast du eine Nagelschere mit? Nein, die darf man nicht mitnehmen. Eine Feile? Weiß ich nicht. 1,5l Wasser? Natürlich!
Gut ausgerüstet mit zwei blauen Rucksäcken, beginnt heute unsere Reise mit dem Etappenziel Jakarta.
Natürlich haben wir uns die beste Reisezeit ausgesucht um Essen zu testen - Ramadhan. Zusätzlich sind gerade Schulferien und dementsprechend viel war auch in Waingapu am Flughafen los.
Der wird übrigens gerade ausgebaut, da er in den nächsten X Jahren international wird. Durch die gewohnten Kontrollen mit Führerschein und abgelaufenen Perso ging es dann zum Scan.
Wo ich es zum Ersten Mal in meiner Inlandsflug Karriere geschafft habe, einen verbotenen Gegenstand mitzuhaben.
Da ich zu Beginn keine Ahnung hatte, was das sein könnte, wurde mal der halbe Rucksack auseinander genommen. Unterwäsche, Toilettetascheninhalt... Das wollte ich ja schon immer mal vor Indonesiern auspacken haha.
Nachdem ich auf den Bildschirm schauen dürfte, erkannte ich den Übeltäter... Mein Nähzeug.
An die Schere habe ich natürlich nicht gedacht. Aber weil, wir ja in Sumba sind, kein Ding... darf ich mitnehmen. Ob ich auf Denpasar noch mal das Glück habe wird sich zeigen.
Durch den Umbau bedingt ist der ohnehin kleine Flughafen jetzt noch gedrängter und mit zwei mal umfallen hat man das ganze Areal abgedeckt.
Noch 40 Minuten bis Abflug fingen wir gleich mal mit dem Vagabunden Image an.
Mit Stoffhosen, Rucksäcken, besockten Füßen auf der Sitzbank und Erdnüssen als Snack, genossen wir es noch einmal in der Öffentlichkeit zu Essen.
Das Sumba immer bekannter wird erkennt man auch an den Passagieren des Fluges. Sage und schreibe 4 andere Bules und ein Haufen Englisch sprechender Menschen. Das überfordert mich.
Jetzt gibt's gleich mal einen deliziösen westlichen Kaffee in Denpasar, unseren professionellen Snack und dann geht es weiter nach Jakarta.
Für alle die auch sonst noch in Kontakt mit uns stehen... wir sind nur noch 5h in der Zukunft.
Milchig flockige Wolken Grüße



Sonntag, 19. Juni 2016

der erste Abschied - Sommerferien


Wo sich eine Tür schließt, öffnet sich eine Andere.
Man muss sich erst trennen, um sich wiedersehen zu können.



Am Freitag hatten wir unser Abschiedsfest, für alle die jetzt verwundert sind, ja wir sind noch etewa 1 1/2 Monate in Indonesien, aber da jetzt die Sommerferien los gegangen sind, wurde das Ganze vorverlegt.

Die Indonesier lieben ja Feste, ich weiß nicht ob das bereits aus dem Blog hevor gekommen ist, und  es ist bereits Tradition, dass die Volunteers zusammen mit dem Frater (es gibt jedes Jahr einen Frater, der ein Ausbildungsjahr in Pada Dita verbringt) ein Fest im Asrama Pada Dita schmeißen.

So auch wir. Das Ganze kam etwas kurzfristig. Montags erfuhren wir, dass das Fest am Freitag sein würde, na wenn es weiter nichts ist.
Also begannen Anna und ich mal zu überlegen, was wir denn vorbereiten könnten um uns von all den Leuten zu verabschieden. Letztendlich entschieden wir uns dazu ein Lied zu schreiben und mit viel Spaß und Köpfe rauchen, hatten wir am Ende ein herrliches Lied, mit tollen Reimen und waren bester Dinge.

In der Zwischenzeit musste die Essensfrage geklärt werden, es muss natürlich ein Schwein geschlachtet werden und eigentlich auch Hühner. Aber reicht denn ein Schwein?
So zur Größenordnung, es waren ungefähr 200 Gäste eingeladen.
Irgendwann entschied man sich dann für ein Schweinchen und das süße kleine Ding, wurde vom Nachbarn gekauft und in den Stall von Pada Dita übersiedelt. Für Indonesien ganz üblich, am Motorrad.

Die Woche verflog ziemlich schnell, alle Leute mussten eingeladen werden und schon war Freitag da. Freitag war nicht nur unser Fest sondern auch Zeugnisverteilung an der SMA und Abschlussfest der SMP. Da ich beim Kochen mithelfen wollte, entschuldigte ich mich etwas früher und kam gerade rechtzeitig im Aspad an um.... das Schwein zu schlachten.

Mit einem gezielten Stich in die Seite wird das Tier zeremionell zum Ausbluten gebracht - Leeeecker!

Zusammen mit ein paar Jungs und unserem Schlachtmeister wurde also zugestochen und in dem ganzen Fieber viel mir gar nicht das Blut auf meinen Beinen auf.
Als nächstes wurden dann die Haare und Borsten mit Stroh abgefackelt, schon angebraten wurden dann die Reste abgekratzt, bevor es im Anschluss gewaschen und klein gehackt wurde.
Im ganzen Trubel viel mir nur am Rande auf, dass sie jetzt doch noch ein Schwein kaufen fahren. Money money money.... must be funny


Ich verließ die Männer unterdessen und gesellte mich zu den Frauen. Dort gab es angenehmere Aufgaben für mich. Knoblauch schneiden, Karotten raspeln und Buncis vorbereiten. Die echte Sumbanesische Hausfrau schneidet in der Luft und das in einer Geschwindigkeit, das mir schlecht wird und ich um jeden Finger bange. Ich bekam- Gott sei Dank - ein Brett und  machte mich etwas gemächlicher an die Arbeit. Mit nur einem Schnitt, vom Raspler, und zwei Stunden später, war ich fertig. Nun waren alle gerade im Fleischverarbeitungseinsatz und für mich gab es nichts mehr zu tun.

Gut so - ich sterbe nämlich vor Hunger und bin komplett fertig, weil sich irgendwer eingebildet hat um 3:00 in der Nacht Fußball EM anzuschauen.

Der Nachmittag vergeht noch schneller, mit Fred die Dankesrede verfassen, mit Anna über die Kleidung reden, mit den Kindern die Tische herrichten und eine kleine Musikprobe, schon ist es fast sechs.
Und wir sollten uns langsam in unsere Kains und Sarongs werfen, die Fred uns ausgeliehen hat.
Natürlich ist es vollkommen unsinnig um sechs fertig zu sein, wenn es um sechs losgehen soll, deshalb sind wir es auch erst um halb sieben.
Tatsächlich losgegangen ist das Fest allerdings erst... kurz nach acht.

Es gab Reden, Lieder, Darbietungen von diversen Asrama Kinder und alles was das Herz begehrt. Nur unseren Song konnten Anna und ich nicht vortragen - wir wurden vergessen.

Bei meiner Rede war ich dann doch etwas nervös, aber den Anderen ging es ebenso und im Anschluss, gab es den zeremoniellen Höhepunkt des Abends. Wir haben alle unseren eigenen Sumbastoff bekommen - meiner ist wunderschön dunkelrot mit gelben Stickereien und von jetzt an, muss ich mir nie wieder einen Sarong ausleihen.

Sogar die jüngsten vom Asrama Pada Dita trauten sich auf die Bühne und waren wirklich gut. Zusammen haben die Kinder außerdem ein Deutsches Lied vorbereitet - Meine Zeit.

Eines meiner Lieblingslieder aus der Kirche und mit Gottes Segen ging es dann zum Essen über.
Wir aßen als eine der Letzten, weil wir zuerst noch von allen Gästen - außer Om Piu, der ging direkt zum Essen - einen Nasenkuss bekommen haben und da wurde ich dann wirklich traurig. All die Mädels abzunaseln. Gut, dass ich sie noch einmal Wiedersehe.
 

Das Essen - sehr fleischlastig -  wurde verzehrt und direkt danach begannen die Leute zu tanzen. Etwas enttäuscht war ich schon, dass wir das Lied nicht singen konnten. Es wäre so passend für mich gewesen.
Aber da ich an diesem Abend seit Eeeeeewigkeiten mal wieder ein Glas Bier für die Nase gesetzt bekommen habe, ließ ich mich ablenken und genoß den Abend.
Gegen Mitternacht ließ sogar ich mich im Sarong zu ein zwei Tänzchen hinreißen und irgendwann um zwei fand ich dann auch ins Bett nachdem ein zwei Schnappsnasen versorgt worden waren.
























Alles im allem ein erfolgreiches Fest und ich bin froh, dass ich morgen noch nicht nachhause fliege.

Donnerstag, 2. Juni 2016

HUT - Der wiederholende Tag im Jahr

Happy Birthday to you nanananana....

Und plötzlich standen da 7 Mädchen und Anna mit einem Kuchen im Zimmer. Jetzt ist es wohl so weit. Mein Geburtstag hat angefangen in Indonesien und ich bin 20.
Nach der guten Stunde Schlaf die ich jetzt hatte, ging es hinaus in den Aufenthaltsraum um feierlich den Kuchen anzuschneiden und natürlich die Kerzen auszublasen.

Nachdem ich mir die Brille aufgesetzt hatte war die Welt gleich viel schärfer und es wurde am selbstgebackenen Kuchen (von Anna) genascht.
Zuckersüß :) sogar einen Geschenke Korb hat sie für mich gebastelt und dann ging es ans aufmachen. 

Anna hatte sich am Nachmittag davon gestohlen und den Kuchen heimlich bei einer Freundin gemacht, die einen Ofen besitzt. So war ich in dem Glauben, dass die Arme gerade Englisch Nachhilfe gibt, während ich beim Rosenkranz war.

Irgendwann um halbzwei ging es dann wieder ins Bett, wobei mich der Zuckerschock noch wach hielt.
Ein magischer Start in den Tag. Mit einem Schulrock, Flipflops, Brettspiel, Schlafshirt, Seife und einem Grinsen im Gesicht schlief ich ein.

Um dann noch mal an meinem Geburtstag aufzuwachen. Von Strand bis Regen, Kuchen und Messe, Spiele spielen und Obst war alles dabei. Und so hatte ich einen herrlich unsumbanesischen Geburtstag.
Das fürchterliche Kuchen füttern mit dem ganzen Asrama kam nämlich erst am nächsten Tag :)