Sonntag, 26. Juni 2016

Kota Tua - Menunggu di Macet

Hari ini tujuan kami ke "Kotu" (kota tua), di Jakarta serba disingkat dong.. Kami berjalan bersama dua teman OMK, yaitu Agata dan Afi. Pater Handry menjadi sopir kami. Sebelum berangkat pater Rano berpesan: "Selamat menikmati macet..hahaha..."

Ketika pusat kota Jakarta semakin dekat, jalanan semakin sesak dengan kendaraan, jalan tol saja macet sekali. Tidak apa-apa, nikmati saja, kami bernyanyi, bercerita atau tidur selama dua jam perjalanan.  Ketika tiba disana, kami berempat saya, Anya, Agata, dan Afi lanjut jalan kaki. Pater Handry tidak ikut karena dia capek mengendarai mobil.

Dalam perjalanan ke Taman Fatahillah kami melewati Kali Besar. Ternyata namanya tidak cocok pada musim ini, karena hampir tidak ada air lagi..

Sampai di Taman Fatahillah saya bahagia sekali karena di tempat ini bisa main sepeda. Yang mau bermain sepeda  bisa memilih sepeda dan topi dengan berbagai jenis pilihan warna. Saya dan Anya memilih sepeda dan topi warna merah, kami terlihat  macam wanita “jadul” (jaman dulu) saja. Topi itu sebenarnya terlalu kecil untuk kepala kami sehingga ketika bermain selalu mau jatuh. Senang sekali main sepeda. Pertama saya yg bawa, Anya di belakang. Sebelum kami datang taman masih tenang, tapi setelah kami mulai bermain suasana menjadi berubah berisik dan ribut. Kami senang sekali dan tertawa terus. Orang-orang di sekeliling heran melihat dua orang bule yg naik sepeda seperti orang gila..

Setelah puas main sepeda kami lanjut berjalan ke arah laut. Saya pernah membaca bahwa dekat Sunda Kepala ada Menara Syahbandar yang setinggi delapan tingkat. Saya ingin sekali naik ke menara itu.. Kami berjalan kaki ke sana. Kami orang Jerman dan Austria suka jalan kaki, kasihan juga teman-teman yang ikut dengan kami, hehehe... tidak apa-apalah, semoga mereka juga suka.

Hari semakin siang, jadi panas sekali. Saya berjalan paling depan penuh semangat, diikuti Anya, serta Agata dan Afi di paling belakang. Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di menara dan dengan kekuatan terakhir kami naik ke atas. Pemandangannya indah sekali, seluruh kota tua bisa dilihat, atap-atap gedung yg berwarna merah, kali besar yang di sebelahnya dan semua kapal yang baru sampai di pelabuhan.
Terasa sejuk di atas menara, kami beristrahat sejenak.

Setelah dari menara kami mengunjungi Museum Bahari yang berada dekat Pasar Ikan. Museum ini menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia.
Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC . Selain itu ada pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Juga peralatan yang digunakan oleh pelaut pada jaman dulu seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan meriam.
Museum Bahari juga menampilkan koleksi biota laut, data, jenis, dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan serta cerita dan lagu tradisional masyarakat nelayan Nusantara.

Setelah itu kami mencari jalan pulang ke mobil karena sudah memulai lapar dan capek. Pater Handry mengusulkan supaya makan di McDonalds. Tetapi dibatalkan, dan kami diajak membeli roti di Holand Bakery, mungkin mereka mengira kami orang eropa selalu ingin makan roti ya...? Sebenarnya kami lebih senang makan makanan khas Indonesia seperti nasi. Soalnya kalau belum makan nasi belum sungguh-sungguh kenyang... Hahaha... Indonesia bangat to...?

Perjalanan pulang membutuhkan waktu sekitar tiga jam karena pada sore hari macet parah hampir di seluruh Jakarta. Itu masalahnya liburan di Jarkarta, kami lebih sibuk menunggu di jalan daripada mengunjungi tempat wisata.. Tetapi macet merupakan bagian kehidupan di Jakarta yang juga harus dialami. Dan sambil jalan kami bisa istrahat dan santai. Saya banyak tidur di mobil sehingga ketika sampai di wisma redemptoris tidak terlalu mengantuk lagi..
Setiap malam sejak kami tiba di Jakarta ada hujan, malam ini juga. Bagus, karena terasa lebih sejuk, kurang panas. Sambil mendengar bunyi hujan, Anya dan saya boleh menikmati mangga. Ahhh, saya sekarang seperti di surga ketujuh (pepatah dari jerman). Sejak Desember kemarin tidak ada lagi mangga di Sumba dan saya merindukan rasanya. Sepertinya sekarang saya ingin tinggal lebih lama lagi di Jakarta.

Habis novena kami diajak makan malan dengan teman OMK. Malas jalan kaki kami pergi dengan motor sekitar 2 menit ke angkringan favorit mereka. Disana kami makan nasi kucing. Awalnya saya takut, saya kira mereka menyuruh kami makan daging kucing. Tapi ternyata itu hanya nasi campur biasa tanpa daging kucing ...rasanya enak sekali!

Pulang, kami membuat pesta perpisahan yang kecil bersama Pater Handry dan Pater Barnabas.  Besok pagi Anya dan saya akan melanjutkan perjalanan ke Bandung - dengan kereta api! Semoga jangan terlalu macet supaya kami tidak terlambat ke stasiun!
Semuanya sedih sampai menangis terutama Pater Handry yang sangat menikmati menjadi guide untuk Anya dan saya. Hehehe, tidak.. Tapi saat di Jakarta sungguh-sungguh mantap.. Terima kasih!

Keine Kommentare:

Kommentar veröffentlichen